Sutan Syahrir
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sutan Syahrir (ejaan lama:
Soetan Sjahrir) (lahir di
Padang Panjang,
Sumatera Barat,
5 Maret 1909 – meninggal di
Zürich,
Swiss,
9 April 1966 pada umur 57 tahun) adalah seorang intelektual, perintis, dan revolusioner kemerdekaan Indonesia.
[1] Setelah Indonesia merdeka, ia menjadi
politikus dan
perdana menteri pertama
Indonesia. Ia menjabat sebagai
Perdana Menteri Indonesia dari
14 November 1945 hingga
20 Juni 1947. Syahrir mendirikan
Partai Sosialis Indonesia pada tahun
1948. Ia meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di
TMP Kalibata,
Jakarta. Sutan Syahrir ditetapkan sebagai salah seorang
Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 9 April 1966 melalui Keppres nomor 76 tahun 1966
[2]
Riwayat
Syahrir lahir dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin
Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah yang berasal
dari
Koto Gadang,
Agam,
Sumatera Barat [3] Ayahnya menjabat sebagai penasehat
sultan Deli dan kepala jaksa (
landraad) di
Medan. Syahrir bersaudara seayah dengan
Rohana Kudus, aktivis serta wartawan wanita yang terkemuka.
Sekolah MULO di Medan (sekitar tahun 1925)
Syahrir mengenyam sekolah dasar (
ELS) dan sekolah menengah (
MULO) terbaik di Medan. Hal ini mengantarkannya kepada berbagai buku-buku asing dan ratusan novel Belanda. Malamnya dia mengamen di
Hotel De Boer (kini
Hotel Natour Dharma Deli), hotel khusus untuk tamu-tamu Eropa.
Pada 1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (
AMS) di
Bandung, sekolah termahal di
Hindia Belanda
saat itu. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa
Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga
aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia
dirikan,
Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.
Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Syahrir menjadi
seorang bintang. Syahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri
dengan buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia aktif dalam klub
debat di sekolahnya. Syahrir juga berkecimpung dalam aksi pendidikan
melek huruf secara gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu dalam
Tjahja Volksuniversiteit.
Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para
pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada
tanggal
20 Februari 1927,
Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan
pemuda nasionalis, Jong Indonesië. Perhimpunan itu kemudian berubah nama
jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda
Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.
Sebagai siswa sekolah menengah, Syahrir sudah dikenal oleh polisi
Bandung sebagai pemimpin redaksi majalah himpunan pemuda nasionalis.
Dalam kenangan seorang temannya di AMS, Syahrir kerap lari digebah
polisi karena membandel membaca koran yang memuat berita pemberontakan
PKI 1926; koran yang ditempel pada papan dan selalu dijaga polisi agar
tak dibaca para pelajar sekolah.
Syahrir melanjutkan pendidikan ke negeri
Belanda di Fakultas Hukum,
Universitas Amsterdam.
Di sana, Syahrir mendalami sosialisme. Secara sungguh-sungguh ia
berkutat dengan teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas,
Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang
kelak dinikahi Syahrir, meski sebentar. (Kelak Syahrir menikah kembali
dengan
Poppy, kakak tertua dari
Soedjatmoko dan
Miriam Boediardjo).
Dalam tulisan kenangannya, Salomon Tas berkisah perihal Syahrir yang
mencari teman-teman radikal, berkelana kian jauh ke kiri, hingga ke
kalangan
anarkis yang mengharamkan segala hal berbau
kapitalisme
dengan bertahan hidup secara kolektif – saling berbagi satu sama lain
kecuali sikat gigi. Demi lebih mengenal dunia proletar dan organisasi
pergerakannya, Syahrir pun bekerja pada Sekretariat
Federasi Buruh Transportasi Internasional.
Selain menceburkan diri dalam sosialisme, Syahrir juga aktif dalam
Perhimpunan Indonesia (PI) yang ketika itu dipimpin oleh
Mohammad Hatta.
Di awal 1930, pemerintah Hindia Belanda kian bengis terhadap organisasi
pergerakan nasional, dengan aksi razia dan memenjarakan pemimpin
pergerakan di tanah air, yang berbuntut pembubaran
Partai Nasional Indonesia
(PNI) oleh aktivis PNI sendiri. Berita tersebut menimbulkan
kekhawatiran di kalangan aktivis PI di Belanda. Mereka selalu menyerukan
agar pergerakan jangan jadi melempem lantaran pemimpinnya dipenjarakan.
Seruan itu mereka sampaikan lewat tulisan. Bersama Hatta, keduanya
rajin menulis di
Daulat Rakjat, majalah milik
Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik.
| “ |
"Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan," katanya. |
” |
Pengujung tahun 1931, Syahrir meninggalkan kampusnya untuk kembali ke
tanah air dan terjun dalam pergerakan nasional. Syahrir segera
bergabung dalam organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI Baru), yang
pada Juni 1932 diketuainya. Pengalaman mencemplungkan diri dalam dunia
proletar ia praktekkan di tanah air. Syahrir terjun dalam pergerakan
buruh. Ia memuat banyak tulisannya tentang perburuhan dalam Daulat
Rakyat. Ia juga kerap berbicara perihal pergerakan buruh dalam
forum-forum politik.
Mei 1933, Syahrir didaulat menjadi Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.
Hatta kemudian kembali ke tanah air pada Agustus 1932, segera pula ia
memimpin PNI Baru. Bersama Hatta, Syahrir mengemudikan PNI Baru sebagai
organisasi pencetak kader-kader pergerakan. Berdasarkan analisis
pemerintahan kolonial Belanda, gerakan politik Hatta dan Syahrir dalam
PNI Baru justru lebih radikal tinimbang Soekarno dengan PNI-nya yang
mengandalkan mobilisasi massa. PNI Baru, menurut polisi kolonial, cukup
sebanding dengan organisasi Barat. Meski tanpa aksi massa dan agitasi;
secara cerdas, lamban namun pasti, PNI Baru mendidik kader-kader
pergerakan yang siap bergerak ke arah tujuan revolusionernya.
Karena takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934,
pemerintah kolonial Belanda menangkap, memenjarakan, kemudian membuang
Syahrir, Hatta, dan beberapa pemimpin PNI Baru ke
Boven-Digoel. Hampir setahun dalam kawasan malaria di Papua itu, Hatta dan Syahrir dipindahkan ke
Banda Neira untuk menjalani masa pembuangan selama enam tahun.
Masa pendudukan Jepang
Sementara Soekarno dan Hatta menjalin kerja sama dengan Jepang,
Syahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis. Syahrir yakin
Jepang tak mungkin memenangkan perang, oleh karena itu, kaum pergerakan
mesti menyiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di saat yang tepat.
Simpul-simpul jaringan gerakan bawah tanah kelompok Syahrir adalah
kader-kader PNI Baru yang tetap meneruskan pergerakan dan kader-kader
muda yakni para mahasiswa progresif.
Sastra, seorang tokoh senior pergerakan buruh yang akrab dengan Syahrir, menulis:
| “ |
Di
bawah kepemimpinan Syahrir, kami bergerak di bawah tanah, menyusun
kekuatan subjektif, sambil menunggu perkembangan situasi objektif dan
tibanya saat-saat psikologis untuk merebut kekuasaan dan kemerdekaan. |
” |
Situasi objektif itu pun makin terang ketika Jepang makin terdesak
oleh pasukan Sekutu. Syahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia dengan
cara sembunyi-sembunyi mendengarkan berita dari stasiun radio luar
negeri. Kala itu, semua radio tak bisa menangkap berita luar negeri
karena disegel oleh Jepang. Berita-berita tersebut kemudian ia sampaikan
ke Hatta. Sembari itu, Syahrir menyiapkan gerakan bawah tanah untuk
merebut kekuasaan dari tangan Jepang.
Syahrir yang didukung para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk
memproklamasikan kemerdekaan pada 15 Agustus karena Jepang sudah
menyerah, Syahrir siap dengan massa gerakan bawah tanah untuk
melancarkan aksi perebutan kekuasaan sebagai simbol dukungan rakyat.
Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepang,
tidak merespon secara positif. Mereka menunggu keterangan dari pihak
Jepang yang ada di Indonesia, dan proklamasi itu mesti sesuai prosedur
lewat keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang
dibentuk oleh Jepang. Sesuai rencana PPKI, kemerdekaan akan
diproklamasikan pada 24 September 1945.
Sikap Soekarno dan Hatta tersebut mengecewakan para pemuda, sebab
sikap itu berisiko kemerdekaan RI dinilai sebagai hadiah Jepang dan RI
adalah buatan Jepang. Guna mendesak lebih keras, para pemuda pun
menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus. Akhirnya, Soekarno dan
Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus.
Masa Revolusi Nasional Indonesia
Revolusi menciptakan atmosfer amarah dan ketakutan, karena itu sulit
untuk berpikir jernih. Sehingga sedikit sekali tokoh yang punya konsep
dan langkah strategis meyakinkan guna mengendalikan kecamuk revolusi.
Saat itu, ada dua orang dengan pemikirannya yang populer kemudian dianut
banyak kalangan pejuang republik: Tan Malaka dan Sutan Syahrir. Dua
tokoh pergerakan kemerdekaan yang dinilai steril dari noda kolaborasi
dengan Pemerintahan Fasis Jepang, meski kemudian bertentangan jalan
dalam memperjuangan kedaulatan republik.
Pada masa genting itu, Bung Syahrir menulis
Perjuangan Kita. Sebuah risalah peta persoalan dalam revolusi Indonesia, sekaligus analisis ekonomi-politik dunia usai Perang Dunia II.
Perjungan Kita
muncul menyentak kesadaran. Risalah itu ibarat pedoman dan peta guna
mengemudikan kapal Republik Indonesia di tengah badai revolusi.
Tulisan-tulisan Syahrir dalam
Perjuangan Kita,
membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno
amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Syahrir justru menulis,
"Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu
insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya
menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit,
tersesat, dan merusak pergerakan."
Dan dia mengecam Soekarno. "Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas
solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh
terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita." Dia juga mengejek gaya agitasi
massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.
Perjuangan Kita adalah karya terbesar Syahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di
Boven Digul dan
Bandaneira. Manuskrip itu disebut Indonesianis
Ben Anderson
sebagai, "Satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis
kekuatan domestik dan internasional yang memperngaruhi Indonesia dan
yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan pada
masa depan."
Terbukti kemudian, pada November ’45 Syahrir didukung pemuda dan
ditunjuk Soekarno menjadi formatur kabinet parlementer. Pada usia 36
tahun, mulailah lakon Syahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan
Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap
Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.
Penculikan
Penculikan Perdana Menteri Sjahrir merupakan peristiwa yang terjadi pada
26 Juni 1946 di
Surakarta oleh kelompok oposisi
Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan
Kabinet Sjahrir II dengan
pemerintah Belanda
karena sangat merugikan perjuangan Bangsa Indonesia saat itu. Kelompok
ini menginginkan pengakuan kedaulatan penuh (Merdeka 100%) yang
dicetuskan oleh
Tan Malaka. Sedangkan kabinet yang berkuasa hanya menuntut pengakuan kedaulatan atas
Jawa dan
Madura.
Kelompok Persatuan Perjuangan ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan 14 pimpinan sipil, di antaranya
Tan Malaka
dari Persatuan Perjuangan bersama dengan Panglima besar Jendral
sudirman. Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan
di Paras.
Presiden
Soekarno sangat marah atas aksi penculikan ini dan memerintahkan Polisi Surakarta menangkap para pimpinan kelompok tersebut. Tanggal
1 Juli 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan.
Tanggal
2 Juli 1946, tentara Divisi 3 yang dipimpin Mayor Jendral
Soedarsono menyerbu penjara Wirogunan dan membebaskan ke 14 pimpinan penculikan.
Presiden Soekarno marah mendengar penyerbuan penjara dan memerintahkan Letnan Kolonel
Soeharto,
pimpinan tentara di Surakarta, untuk menangkap Mayjen Soedarsono dan
pimpinan penculikan. Lt. Kol. Soeharto menolak perintah ini karena dia
tidak mau menangkap pimpinan/atasannya sendiri. Dia hanya mau menangkap
para pemberontak kalau ada perintah langsung dari Kepala Staf militer
RI, Jendral Soedirman. Presiden Soekarno sangat marah atas penolakan ini
dan menjuluki Lt. Kol. Soeharto sebagai perwira keras kepala (
koppig).
Kelak Let. Kol. Soeharto menjadi Presiden RI Soeharto dan menerbitkan
catatan tentang peristiwa pemberontakan ini dalam buku otobiografinya
Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.
Lt. Kol. Soeharto berpura-pura bersimpati pada pemberontakan dan
menawarkan perlindungan pada Mayjen Soedarsono dan ke 14 orang pimpinan
di markas resimen tentara di Wiyoro. Malam harinya Lt. Kol. Soeharto
membujuk Mayjen Soedarsono dan para pimpinan pemberontak untuk menghadap
Presiden RI di Istana Presiden di Jogyakarta. Secara rahasia, Lt. Kol.
Soeharto juga menghubungi pasukan pengawal Presiden dan memberitahukan
rencana kedatangan Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak.
Tanggal
3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjatanya dan ditangkap di dekat Istana Presiden di
Yogyakarta oleh pasukan pengawal presiden. Peristiwa ini lalu dikenal sebagai
pemberontakan 3 Juli 1946 yang gagal.
Diplomasi Syahrir
Perangko Sutan Syahrir 15 Rupiah edisi tahun 1969
Setelah kejadian penculikan Syahrir hanya bertugas sebagai Menteri
Luar Negeri, tugas sebagai Perdana Menteri diambil alih Presiden
Soekarno. Namun pada tanggal
2 Oktober 1946, Presiden menunjuk kembali Syahrir sebagai Perdana Menteri agar dapat melanjutkan
Perundingan Linggarjati yang akhirnya ditandatangani pada
15 November 1946.
Tanpa Syahrir, Soekarno bisa terbakar dalam lautan api yang telah ia
nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahwa tanpa Bung Karno, Syahrir
tidak berdaya apa-apa.
Syahrir mengakui Soekarno-lah pemimpin republik yang diakui rakyat.
Soekarno-lah pemersatu bangsa Indonesia. Karena agitasinya yang
menggelora, rakyat di bekas teritori Hindia Belanda mendukung revolusi.
Kendati demikian, kekuatan raksasa yang sudah dihidupkan Soekarno harus
dibendung untuk kemudian diarahkan secara benar, agar energi itu tak
meluap dan justru merusak.
Sebagaimana argumen Bung Hatta bahwa revolusi mesti dikendalikan; tak
mungkin revolusi berjalan terlalu lama, revolusi yang mengguncang
‘sendi’ dan ‘pasak’ masyarakat jika tak dikendalikan maka akan
meruntuhkan seluruh ‘bangunan’.
Agar Republik Indonesia tak runtuh dan perjuangan rakyat tak
menampilkan wajah bengis, Syahrir menjalankan siasatnya. Di
pemerintahan, sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia
Pusat (BP KNIP), ia menjadi arsitek perubahan Kabinet Presidensil
menjadi Kabinet Parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP sebagai
lembaga yang punya fungsi legislatif. RI pun menganut sistem
multipartai. Tatanan pemerintahan tersebut sesuai dengan arus politik
pasca-Perang Dunia II, yakni kemenangan demokrasi atas fasisme. Kepada
massa rakyat, Syahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan
anti-kekerasan.
Dengan siasat-siasat tadi, Syahrir menunjukkan kepada dunia
internasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu
bangsa yang beradab dan demokratis di tengah suasana kebangkitan
bangsa-bangsa melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme pasca-Perang
Dunia II. Pihak Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di
Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok,
menculik, dll. Karena itu sah bagi Belanda, melalui NICA, menegakkan
tertib sosial sebagaimana kondisi Hindia Belanda sebelum Perang Dunia
II. Mematahkan propaganda itu, Syahrir menginisiasi penyelenggaraan
pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para
wartawan luar negeri.
Ada satu cerita perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang
anti-kekerasan. Di pengujung Desember 1946, Perdana Menteri Syahrir
dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA. Saat serdadu itu menarik
pelatuk, pistolnya macet. Karena geram, dipukullah Syahrir dengan gagang
pistol. Berita itu kemudian tersebar lewat Radio Republik Indonesia.
Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan
keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisa berdampak fatal dibunuhnya
orang-orang Belanda di kamp-kamp tawanan oleh para pejuang republik,
ketika tahu pemimpinnya dipukuli.
Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri,
Kabinet Sjahrir I,
Kabinet Sjahrir II sampai dengan
Kabinet Sjahrir III
(1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur
diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari
segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian
berbuah kemenangan sementara. Inggris sebagai komando tentara sekutu
untuk wilayah Asia Tenggara mendesak Belanda untuk duduk berunding
dengan pemerintah republik. Secara politik, hal ini berarti secara
de facto sekutu mengakui eksistensi pemerintah RI.
Jalan berliku diplomasi diperkeruh dengan gempuran
aksi militer Belanda pada
21 Juli 1947. Aksi Belanda tersebut justru mengantarkan Indonesia ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (
PBB). Setelah tidak lagi menjabat Perdana Menteri (
Kabinet Sjahrir III), Syahrir diutus menjadi perwakilan Indonesia di PBB. Dengan bantuan
Biju Patnaik, Syahrir bersama
Agus Salim berangkat ke Lake Success, New York melalui New Delhi dan Kairo untuk menggalang dukungan India dan Mesir.
Pada
14 Agustus 1947 Syahrir berpidato di muka sidang
Dewan Keamanan PBB.
Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai
Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara
lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir
mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda,
Eelco van Kleffens.
Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa
yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun
turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk
menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang
semata-mata urusan dalam negerinya.
Van Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang
Dewan Keamanan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu
sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di
gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang
baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil
Belanda di PBB menjadi duta besar Belanda di
Turki.
Syahrir populer di kalangan para wartawan yang meliput sidang Dewan
Keamanan PBB, terutama wartawan-wartawan yang berada di Indonesia semasa
revolusi. Beberapa surat kabar menamakan Syahrir sebagai
The Smiling Diplomat.
Syahrir mewakili Indonesia di PBB selama 1 bulan, dalam 2 kali
sidang. Pimpinan delegasi Indonesia selanjutnya diwakili oleh Lambertus
Nicodemus Palar (L.N.) Palar sampai tahun 1950.
[4]
Partai Sosialis Indonesia
Selepas memimpin kabinet, Sutan Syahrir diangkat menjadi penasihat Presiden
Soekarno sekaligus Duta Besar Keliling. Pada tahun
1948 Syahrir mendirikan
Partai Sosialis Indonesia
(PSI) sebagai partai alternatif selain partai lain yang tumbuh dari
gerakan komunis internasional. Meskipun PSI berhaluan kiri dan
mendasarkan pada ajaran
Marx-
Engels, namun ia menentang sistem kenegaraan
Uni Soviet.
Menurutnya pengertian sosialisme adalah menjunjung tinggi derajat
kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap
manusia
Hobi dirgantara dan musik
Meskipun perawakannya kecil, yang oleh teman-temannya sering dijuluki
Si Kancil,
Sutan Syahrir adalah salah satu penggemar olah raga dirgantara, pernah
menerbangkan pesawat kecil dari Jakarta ke Yogyakarta pada kesempatan
kunjungan ke Yogyakarta. Di samping itu juga senang sekali dengan musik
klasik. Ia juga bisa memainkan biola.
Akhir hidup
Tahun 1955 PSI gagal mengumpulkan suara dalam
pemilihan umum pertama di Indonesia. Setelah kasus PRRI tahun 1958
[5], hubungan Sutan Syahrir dan Presiden
Soekarno
memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Tahun 1962 hingga
1965, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita
stroke. Setelah itu Syahrir diizinkan untuk berobat ke
Zürich Swiss, salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat wakil ketua PSI
Sugondo Djojopuspito mengantarkannya di
Bandara Kemayoran dan Syahrir memeluk
Sugondo dengan air mata. Sjahrir akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal
9 April 1966.